|
|
|
Budidaya Padi di Lahan Rawa Pasang Surut tipe A dan B |
|
Oleh : MUHAMMAD MARWAN PPPK Penyuluh Pertanian |
|
Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kapuas Kuala Kecamatan Kapuas Kuala, Kab.Kapuas, Kalimantan Tengah |
Tahun 2020, kalimantan Tengah, khususnya Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau mendapatkan program Food Estate seluas 30.000 H. 20.000 Ha di wilayah Kabupaten Kapuas, dan10.000 Ha nya ada di wilayah kabupaten Pulang Pisau. Ada yang berhasil dan ada yang tidak berhasil. Yang berhasil adalah lahan-lahan eks transmigrasi yang telah ditata sedemiikian rupa sistim pengairannya. Sedangkan lahan-lahan di wilayah pesisir banyak mengalami kegagalan.
Tahun 2021 ini, program Food Estate masih dilaksanakan, bukan hanya di Kalimantan Tengah, tetapi juga merembet ke propinsi lain.
Agar kegagalan yang sama tidak terulang, maka ada beberapa langkah teknologi yang harus dilaksanakan. Sebelum kami menyampaikan beberapa teknologi tersebut, terlebih dahulu kita kenali beberapa macam wilayah berdasarkan luapan air pasang di lahan rawa pasang surut.
Ada 4 macam lahan berdasarkan tipe luapan airnya. Keempat tipe tersebut adalah :v Tipe A, adalah lahan yang dapat terluapi air pasang, baik pasang besar maupun pasang kecil
v Tipe B, adalah lahan yang dapat terluapi air pasang besar saja, pada saat pasang kecil, air tidak bisa masuk ke lahan
v Tipe C, adalah lahan yang tidak dapat terluapi air pasang, baik pasang besar maupun pasang kecil, akan tetapi permukaan air tanahnya < 50 cm
v Tipe D, adalah lahan yang tidak dapat terluapi air pasang, baik pasang besar maupun pasang kecil, akan tetapi permukaan air tanahnya > 50 cm
Lahan tipe A dan B cocok untuk dijadikan lahan sawah dengan tanaman padi, sedangkan lahan tipe C dan D lebih cocok untuk budidaya Tanaman hortikultura dan perkebunan.
Sebagian besar petani di lahan tipe A dan B menanam padi dengan padi Lokal (usia dalam), misalnya, siam, pandak, siam banyu dan lain-lain. Masih sangat jarang peani yang mau menanam padi unggul.
Syarat utama dalam budiaya padi unggul adalah dapat dikelolanya air guna pertumbuhan tanaman. Pada lahan rawa pasang surut tipe A dan B, berbagai macam kendala dapat ditemui yang tentunya dapat menghambat perktumbuhan tanaman, khususnya padi unggul. Beberapa kendala tersebut antara lain adalah :
v Luapan air pasang yang dapat menenggelamkan padi
v Surutnya air dengan cepat,yang apabila tidak ditata sedemikian rupa, air tidak akan bisa dipertahankan untuk bisa menggenangi persawahan
v Rendahnya pH tanah
v Lapisan pirit yang dangkal, yang apabila terangkat akan berakibat buruk bagi tanaman.
Ke empat hal diatas apabila tidak dikelola dengan baik, mustahil akan bisa bercocoktanam padi unggul dengan baik.Untuk dapat mengelola lahan di wilayah tersebut , ada 4 hal yang perlu diterapkan, yaitu :
PENGGELOLAAN AIR
Pengelolaan air disini adalah bagaimana air agar dapat diatur sedemikian rupa, sehingga bila pasang atau surut sisa air di sawah dapat dipertahankan sesuai kebutuhan. Dalam pengelolaan air ini ada 2 faktor penting yang harus dibenahi, yaitu :
a. Perbaikan saluran sekunder / handel / rey.
Umumnya sawah petani berada di kiri dan kanan handel. Agar dapat diatur airnya, maka handel harus dikeruk dan dibuat 2 tanggul di kiri dan kanan saluran sekunder / handel tersebut. Ini untuk menahan agar air pasang yang naik melalui handel, dapat dikendalikan ketika mau memasuki sawahb. Pembuatan Tabat / Pintu air
1. PENATAAN LAHAN
1. PEMIILIHAN VARIETAS YANG ADAFTIF
P Hal terakhir yang tidak kalah penting adalah bagaimana memilih varitas padi unggul yang adaptif terhaap kondisi lahan rawa pasang surut. Beberapa varitas ada yang rentan terhadap penyakit blast dan busuk leher. Untuk memilih varitas tersebut, sebelum menanam petani harus melihat Deskripsi Varietas Padi, (bisa dicari di google). Yang perludiperhatikan adalah adanya pergiliran varietas, karena biasanya petani sering menanam varietas yang hasilnya bagus, akan ditanam varietas tersebut terus menerus. Biasanya setelah beberapa kali ditanam, hasil produksi varietas tersebbut akan menurun, dikarenakan serangan hama dan penyakit. Untuk memutus siklus hama dan penyakit tersebut, perlu dilaksanakan pergiliran varietas.





Komentar
Posting Komentar